PEMIKIRAN LIBERAL AL MAKMUN DALAM MEMAHAMI AL-QURAN SEBAGAI MAHKLUK

  • Muhammad Nasir UNW Mataram

Abstract

Kajian ilmu kalam memainkan peran yang sangat signifikan dalam kancah pemikiran umat islam. Banyak mazhab-mazhab dari setiap aliran memiliki karakteristik yang berbeda-beda dalam menjelaskan suatu konsep; al-Quran misalnya dipahami dengan berbeda-beda tergantung dari mazhab yang ikuti. Mu’tazilah sebagai salah satu mazhab yang memiliki pengaruh yang sangat luas dengan akal sebagai basis awal pemikirannya. Banyak dari mazhab mu’tazilah menelurkan pionir-pionir yang membawa perubahan dalam paradigma berpikir terutama terkait dengan konsep kodim atau baharu-nya al-Qur’an. Al-makmum dalam hal ini dengan sangat tengas mengatan bahwa al-qur’an merupakan sesuatu yang diciptakan dan bersifat baharu. Pada tahun 212 H, Al-Makmun menyatakan dengan terang-terangan bahwa al-Quran adalah mahkluk, disamping perkataannya bahwa Ali bin Abi Thalib lebih utama daripada Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Hampir saja ucapan-ucapan yang sangat kontroversial itu menimbulkan bencana besar dikalangan kaum muslimin. Ternyata, rakyat sangat peka dengan masalah yang mereka anggap sebagai bagian penting dari agama itu. Hampir semua ulama di zaman Al-Makmun pernah diuji tentang keterciptaan al-Quran. Para ulama yang setuju terhadap ajaran keterciptaan alquran akan terbebas dari siksaan Al-Makmun. Namun sebaliknya, para ulama yang membantah dan tidak setuju dengan doktrin tersebut mendapatkan perlakuan yang tidak sepantasnya bagi para ulama. Sebut saja, imam Ahmad bin Hanbal salah satu korban inkuisisi (mihnah) yang pernah merasakan sempitnya penjara dan beratnya rantai borgol yang pernah dihuninya dan mengikatnya. Berbulan-bulan dalam penjara, namun semua penderitaan tidak mampu mengubah pemahaman Al-Ma’mun tentang status

Published
2021-01-18